Sabtu, 18 Desember 2010

SEBATAS PUPUS KATA KATA TAK LAGI MATI

Bawalah pupus waktu
Meminum perjamuan secangkir deru
Tak mendengar hari memilu
Grafitasi ruang jatuh membatu

Pupus tak memupus kutukmu
Menulis mitologi tentang wong asu
Berlayar dalam kapal kertas biru
Berlabuh terhantam karam otak beku

Kini naifku tak lagi layu
Menyetubuhi tuhan bukan hal yang baru
Sebagai dusta dan kebenaran bercumbu

Banggalah memiliki dosa yang merayu
Tentang khianat kehormatan berpacu
Berpijak kata imoralis sebagai guru

SONETA PEMBERONTAK

Api terbakar api dalam bara
Menentang penuh cahaya
Berjuang pergolakan prahara
Tanpa hilang segala makna

Ini gambaran tubuh
Terbelenggu didalam sel penjara
Dimana keadilan tak tersentuh
Oleh insane manusia

Yang ditindas oleh penguasa
Mereka ingginkan keadilan merata
Memberontak untuk pembebasan
Dalam alirandarah kebebasan

Memberontak adalah hal yang mulia
Dari pada ditindas oleh penguasa.

REPORTOAR TUBUH HUJAN

Tubuh Hujan

Titik tak menjadi mata koma mata
Menitik lebat air mata yang tak bermata
Titiskan air kenang langit dari mata
Menjatuh resap sejarah tanah bermata

Tetes lepas gambaran air terlukis mata
Menetes dalam dalam padamkan bara mata
Tetekkan tanah dunia tanpa terpejam mata
Meresap jatuh pada tanah berair mata

Ritus Hujan

Pada gemuruh langit sepusar hitam keruh
Pada petir juga bunyi gelegar sembunyi huni
Ini perayaaan musim panjang jarum runtuh
Selukis garis pada ruang membasahi bumi

Seruntun deret basah meruang dan mewaktu
Sepenggal mitos meraga peristiwa hujan huni
Upacara atas basah tumbuh menumbuhi tanah benih
Menjadi ritus perayaan bunyi pada persembahannya

Negeri Hujan

Hujan di negeri membuat episode hening
Hingga telanjang semusim yang mencair
Tercermin dalam bunyi tak diam berlaku sunyi
Memukul dahan dan ranting angin yang bertaring

Dimana matahari selalu menghuni rumah air
Dalam semusim pergi membisikan kesepian
Tak pernah berhenti sehujan negeri serap daya
Merubah ruang waktu yang selalu mencair

Hujan di Kota Kertas

Kota yang terlipat dalam kupu kupu kertas
Menubuhkan hujan tak lelah bermata aksara
Menuliskan gadis perindu di negeri hujan menunggu
Mengiris waktu dengan gagang pisau kewanitaan

Yang lalu gadis hujan mencatat persetubuhan
Demikian penuh misteri pada tubuh air mata
Mengalirkan air berasap dari kepulan nyeri
Menyajikan cerita hujan tak henti di batas zaman

MONOLOG

I

Rona setelah wajah berkaca menjelajahi latar belakang
Meninggalkan talipati pada leher kekasih di malam diam
Atau dimalam bunyi seruling sumbang pantai karang dan jurang
Menyusup gelap menyusun rencana mendatangkan pagi
Belum waktu semburat cahaya terang itu datangkan petaka
Membuat dendang di pulau naxos menyalakan obor rayuan
Sebelum Berlari hindar  jerat dan terjebak jerat kecantikan anak anak
Hingga sudah sekarat terjebak ruh merajai otak badai beku

II

Entah
Waktu
Tuhan
Mu
Ruang
Mati
Ku
Hitam

III

Sehitam lalu mawar kelopak hitam berjanji di tanah perjanjian
Bertebar kedukaan kuncup menggugur terseret angin sunyi 
Biarlah berkeliaran terarah ke tenggara lalu kapal tenggelam
Tenggelam mewaktu dalam ruang minotaurus menyekap theseus
Dan biarlah semua jadi hantu-hantu memuja dewa-dewa perceraian
Tanpa retak bintang venus menjelang pusarkan ruh keheningan
Menanam cinta sebagai pendosa membawa dan melarikan diri
Membawa hayut kemenangan tiba di negeri bapa yang mati

IV

Tak harus mati menantang takdir terkapar
Jalan labirint memanjang tampak absurd
Dalam benang-benang pintu keluar-nya
Ariadna puja theseus membuat jalan terkhianati
Phaedra...
Phaedra...
Phaedra...
Dithiramb Dionysos mencumbu-ku

MAYAT MAYAT

Mayat

Semerah kepalan tangan
Angkat mayat kota kota tua
Itu mayat dalam tubuh gemuruh
Dibungkam suara hati oleh penguasa

Pada darah tangan penguasa
Bantai rakyat puji dosa terpaksa
Mayatmu dan hujanku memasang tanda
Dialog di akhir zaman ideologi

Mayat
 
Masih merah juga mayat itu
Memaku waktu ujung malam melagu
Mendendang balada keterasingan
Menghuni gua dalam pembantaian

Memecah tanah gali ruh memendam sunyi
Masih menganga mulut busuk mayat itu berontak
Suarakan berdarah mayat  kota tua minum susu tuhan
Mati dan tuhan dalam bendera darah dan merah